
Ketika saya berselancar untuk memahami gaya arsitektur Romo Mangunwijaya, saya menemukan sebuah jurnal yang berjudul “Gaya Desain Interior Ruang Ibadah Karya Y.B. Mangunwijaya di Jawa Tengah”. Jurnal yang ditulis oleh Asiko dan Wardani (2014) ini menggunakan konsep citra dan guna yang menjadi andalan Romo Mangun dalam dunia arsitektur. Pendekatan guna atau wastu menunjuk pada pemanfaatan yang diperoleh, pelayanan yang kita dapat darinya, berkat tata ruangnya, pengaturan fisik yang tepat dan efisisensi, kenikmatan (comfort) yang kita rasakan, dan sebagiannya. Guna dalam arti kata aslinya tidak hanya berarti bermanfaat, untung materiil belaka, tetapi lebih dari itu memiliki daya yang biasa menyebabkan kita bisa hidup lebih meningkat.
Gaya desain Romo Mangun sesuai dengan nilai ajaran Konsili Vatikan II, gereja yang mau membuka dialog dengan dunia luas. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa gereja bukanlah tempat yang “suci” sehingga tidak terjamaah oleh semua orang. Gereja hadir di tengah-tengah masyarakat yang terbuka, berdialog, dan menerima semua orang tanpa memandang seseorang berdasarkan etnis, golongan, suku/ ras, etnis, budaya, dan lain-lain. Hal inilah menjadi dasar Romo Mangun yang didukung oleh uskup Albert Sugiyopranoto dalam membuat konsep berbeda yang tidak sekedar salin dan tempel gaya desain ruang ibadah yang ada di Eropa untuk mendesain ruang ibadah. Konsep tersebut adalah gereja diaspora.
Pendekatan citra dan guna dalam tempat ibadah yang diusungkan oleh Romo Mangun adalah sesuatu yang baru dan ingin menunjukkan gereja adalah tempat terbuka untuk menjadi rumah dan pusat masyarakat yang saling berkontribusi satu sama lain. Sehingga kesan gereja yang tidak lagi menjadi gereja yang eksklusif yang hanya terdiri dari umat beragama Katolik dan Protestan.
Bentuk-bentuk mengandung filosofi yang sangat kuat dan memiliki definisi yang beragam, seperti pada gereja Santo Albertus Magnus Jetis yang merupakan gabungan bentuk geonmetris segitiga dan persegi panjang dengan facial point pada bentukan stilasi pohon kehidupan sebagai gambaran akan cinta kasih Tuhan Yesus kepada umat manusia yang memberikan kehidupan dan pengharapan dan Kolom Santa Maria Assumpta disesuaikan dengan konten nilai-nilai liturgi yang menggunakan bahan-bahan yang indah karena disesuaikan dengan sifat beton yang asli, kuat, dan kokoh maka dihadirkan bentuk tersebut sebagai kolom yang menyangga gereja sekaligus sarat nilai-nilai ajaran Kristiani timbul dari bentukan abstrak pada kepala dan badan kolom gereja.
Oleh karena itu, konsep bangunan gereja yang dikonsepkan oleh Romo Mangun yang kaya filosofi, bermakna, dan berdasarkan ajaran-ajaran Kristiani yang mengasihi kepada masyarakat yang terbuka dan mau menerima apa adanya. Gereja hadir sebagai tempat komunitas yang inklusif dan terbuka.
Penulis: Malachi Raka