Berawal dari rangkaian-rangkaian berdasarkan fakta bahwa ikhtisar citra anak yang meletakkan hati, menumbuhkan karsa, dan mewujudkan cipta merupakan kesatuan yang utuh dalam diri anak untuk proses memekarkan diri.
Rasa, Karsa, dan Cipta, adalah dasar pemikiran kami Tim Guru Training 2 Februari 2022 yang juga melibatkan krida (ketrampilan) supaya sampai pada tahap bawa yaitu kehendak untuk berperilaku atau ‘solah bawa’.

Dasar pemikiran yang berawal dari buku yang ditulis oleh Romo Y.B Mangunwijaya tentang ‘Sekolah Merdeka Pendidikan Pemerdekaan’ juga menjadi acuan kami untuk membangun sebuah ide tentang srawung sebagai proses dan sumber belajar pada anak maupun orang dewasa.
Anak dapat berkembang sampai ke tahap menciptakan sesuatu yang baru (kreatif dan eksploratif) dilandasi dari perasaan bahagia (meletakkan hati) dan menggerakkan diri untuk memiliki keinginan atau kehendak (karsa).
Muara dari ikhtisar Citra Anak ini sendiri, berujung pada 3A (Anak, Alam, dan Alat) yang menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam pendidikan integrasi.
Pada akhirnya kami mampu menemukan sebuah tema ‘srawung’ dalam konteks pendidikan dipahami sebagai proses belajar, perjumpaan/pertemuan yang mengintegrasikan 3A (Anak, Alam, dan Alat) untuk memekarkan diri (Eksplorasi, Kreatif, dan Integral).
Anak sebagai sumber dianalisa perihal rasa, karsa, dan ciptanya.
Gambaran anak yang gembira belajar, gembira bertanya, gembira berkumpul, dan gembira berdialog, adalah gambaran anak yang muncul saat menuliskan bait demi bait lirik.
Perasaan-perasaan ini yang mewarnai diskusi kami soal apa yang disebut dengan anak yang gembira, heran kagum, dan bertanya dalam belajar.
Suasana itu pun berusaha diwujudkan dalam pembuatan lirik dan akhirnya kami mengekspresikan serta mempersepsikan diri kami sebagai anak-anak.
SRAWUNG
Berjumpa, Bersama, Aku Bahagia.
Belajar, dan Bersatu, Bersama Alam.
Alam sekolahku, budaya inspirasiku.
Kita berkreasi, wujud eksplorasi.
Reff:
Sinauku Saka Srawung lan diskusi.
Saling menginspirasi.
Meletakkan Hati, Menggerakkan diri.
Saba, Ubeg, lan Tumandang.
Kami pun dibawa pada kenangan masa kecil, dimana setiap kenangan dan perjumpaan dengan teman begitu terasa menyenangkan.
Tanpa disadari, kami belajar melalui setiap perjumpaan menjadi wujud penciptaan suatu aktivitas yang kreatif dan eksplorasi.
Tema lagu anak soal srawung dikaitkan dengan kata-kata atau istilah jawa sebagai identitas lagu yang telah dibuat.
Di samping itu, ungkapan-ungkapan Romo Mangunwijaya “Di mana hati diletakkan, proses belajar maju dan dimulai” juga menjadi bagian sumber dan konsep dalam mewujudkan tema tersebut.
Lagu tersebut dibuat di rumah Kuwera yang erat kaitannya dengan lingkungan atau budaya jawa.
Balutan nada bersemangat dan lirik untuk menggambarkan srawung sebagai proses anak yang memekarkan diri bersama lingkungan (sekolah, keluarga, masyarakat, dan lainnya).
Hasil kreativitas ini juga menjadi inspirasi bagi banyak orang dan sebuah karya yang mendorong semua orang untuk mengalami perjumpaan, meletakkan, menggerakkan diri, dan menjadi pribadi yang EKI (Eksplorasi, Kreatif, dan Integral).
Penulis: Bagas, Clara, Galih, Hanna, Kara, Feri, Thomas