Dinamika Edukasi Dasar

Pedagogi Mangunwijaya

Relasi Menciptakan Suasana Nyaman, Aman, dan Gembira Belajar

Mimpi Romo Mangunwijaya dalam dunia pendidikan, memiliki pedagogi yang dipahami sebagai konsep dan proses praksis pendampingan yang bertujuan untuk pemekaran diri seorang anak.

Pendamping/guru memiliki tugas yaitu mempersiapkan konsep/perencanaan dan proses praksis pendampingan kepada anak-anak. 

Tujuan pedagogi yang pertama adalah berbicara tentang visi manusia, artinya Romo Mangun menggunakan istilah EKI (Eksplorasi, Kreasi, dan Integral) sebagai visi manusia untuk menjadi pribadi yang merdeka, mandiri, dan emansipatoris.

*Visi Manusia* adalah gambaran capaian ideal pada proses pendidikan. Dalam Pedagogi Mangunwijaya, anak dan guru diarahkan pada pribadi yang EKI, dengan indikator capaian merdeka, mandiri dan emansipatoris (daya tawar/guna cipta).

*Didaktik* adalah seni mengajar. Guru diajak untuk berelasi dengan anak kaitannya pada arah EKI dari Pedagogi Mangunwijaya. Komunikasi antar relasi seputra, “kamu belajar apa?,” “berbagi makna apa?,” dan “pengalaman kreasi semacam apa?” merupakan hal-hal yang diolah dalam metode didaktik pada seni mengajar menurut Pedagogi Mangunwijaya.

*Management Kelas* merupakan tempat kreatif untuk mencipta. Hal tersebut mengarah pada praktik Sanggar Guru di mana adanya wadah kreasi untuk mencipta. Terdapat Relasi sebagai wadah apresiasi dalam proses kreasi. Terdapat sanggar kreatif, sebagai tempat mencurahkan kreativitasnya secara langsung. Display Karya untuk memajang karya bersama, yang diadakan di kelas setiap kelompok belajar dan kesepakatan kelas sebagai landasan proses belajar yang aman, nyaman, dan gembira belajar.

*Assesment* merupakan proses pemetaan dengan konsep amatan perilaku sehari-hari yang konkret pada diri anak dan lingkungan sekolah, terutama berkaitan dengan tujuh modal dasar yang sudah dimiliki oleh setiap diri anak.

Romo Mangun menggunakan konsep dan praksis pendidikan yang bertujuan memekarkan diri anak yang disebut sebagai “Pedagogi Didaktik.”

Pedagogi didaktik merupakan seni belajar dan mengajar yang EKI (Eksplorasi, Kreasi, dan Integral) antara guru dan anak.

Artinya, EKI menggambarkan (Eksploratif=anak sedang belajar apa?), (Kreatif=pengalaman kreasi apa yang ditemukan anak dalam bereksplorasi?), dan (Integral=anak berbagi pengalaman apa melalui bereksplorasi dan kreasi?).

Pedagogi didaktik memiliki hal-hal pokok yang perlu diperhatikan:

Oleh sebab itu, Pedagogi Mangunwijaya mengelompokkan hal praktik tersebut dalam wujud pola pendampingan.

Pola pendampingan yang terjadi mengandung tiga praktek konkret yang dilakukan, yaitu pengenalan (pemetaan), pendampingan (didaktis dan manajemen kelas), serta pertanggungjawaban (otentik dan portofolio).

Pedagogi Mangunwijaya merupakan perwujudan dari konsep dan praktek pemekaran anak yang mengarah pada eksplorasi, kreatif, dan integral.

Gambar diambil dari akun instagram dinamika_edukasidasar

Relasi dalam rasa, relasi dalam karya merupakan kunci proses pembelajaran yang dapat menciptakan rasa aman, nyaman, dan gembira.

Hal tersebut membuat anak terapresiasi, berkembang dalam tujuh modal dasarnya, dan mencapai pribadi yang utuh dalam eksplorasi, kreatif, serta integralnya.

Membangun relasi dengan anak bukan hanya membangun hubungan antara guru-murid, tetapi juga membangun kebersamaan serta kepercayaan anak kepada guru sebagai pendamping, sehingga ada rasa aman dan nyaman selama proses pemekaran diri anak terjadi.

Rasa aman dan nyaman ini menjadi dua suasana hati yang saling terhubung sebab jika rasa aman itu dihadirkan maka rasa nyaman juga akan timbul bersamaan dengan rasa aman.

Setelah rasa aman dan nyaman tersebut sudah mampu  dihadirkan dalam iklim pembelajaran maka dengan sendirinya rasa gembira belajar juga akan hadir.

Pengalaman membangun relasi dalam kelas yang dialami  oleh Pak Thomas ketika mengajar yaitu kurang memperhatikan akan sebuah relasi antara guru dan anak.

Ketika awal ia masuk kelas, anak-anak masih menganggap bahwa sosok Pak Thomas bukan guru.

 Ia membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk dapat membangun kepercayaan anak-anak dan menganggap sosoknya sebagai guru dalam kelas tersebut.

Hal itu terjadi karena ia melupakan pentingnya menghadirkan relasi dalam iklim pembelajaran.

Berbeda dengan Bu Hanna alami yang menyadari bahwa relasi menjadi bagian penting dan menjadi gerbang utama di setiap perjumpaan dengan anak.

Pengalaman yang ia alami secara tidak langsung relasi itu dapat terjalin baik mengalir begitu saja, tetapi ada kemungkinan tidak terjalin dengan baik.

Salah satu pengalaman yang menghadirkan relasi adalah ketika ia mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus.

Dalam mendampingi anak dengan kebutuhan khusus banyak mengalami tantangan terutama butuh kesabaran dan usaha lebih untuk membangun relasi.

Salah satu cara membangun adalah dengan melakukan pendekatan, mengikuti apa yang menjadi kesukaan anak tersebut.

Kesulitan utama yang dihadapi yaitu ketika anak tersebut kondisinya sedang tantrum. Butuh cara tersendiri sesuai dengan kebutuhan anak tersebut.

Menurut Romo Mangun relasi menjadi penting karena mampu menumbuhkan per-HATI-an. Per- HATI-an merupakan iklim (alam atau suasa yang perlu dihadirkan) dalam setiap perjumpaan.

Selain itu, relasi juga menumbuhkan kegembiraan dalam belajar, anak menjadi heran, kagum dan bertanya. Relasi yang dibangun menumbuhkan buah pertanyaan dan menghadirkan iklim belajar. 

Penulis: Bagas, Clara, Dini, Galih, Hanna, dan Thomas

Exit mobile version