Site icon Dinamika Edukasi Dasar

PERPUSTAKAAN YANG HIDUP DAN BERGERAK

Beberapa dari kita mungkin mengalami masa di mana menunggu-nunggu kehadiran mobil perpustakaan keliling adalah hal yang mendebarkan. Biasanya mobil putih biru ini akan berhenti di tempat-tempat tertentu sehingga dapat diakses oleh banyak orang. Selain sering parkir di sekolah, mobil ini juga dapat ditemui di halaman kantor desa, bahkan ikut memeriahkan acara pasar malam yang digelar pada peristiwa-peristiwa tertentu. Rasanya senang sekali ketika melihat deretan buku yang ada di dalamnnya. Pengalaman memilih, membaca, dan meminjam buku kala itu rasanya luar biasa. Waktu itu media cetak menjadi salah satu sumber referensi dan hiburan wajib bagi sebagain besar dari kita. Perpustakaan menyediakan aneka pilihan bacaan mulai dari buku-buku fiksi dan non fiksi, majalah, koran, dan lain-lain. Selain perpustakaan yang dapat diakses dengan mudah, ada juga taman bacaan yang pernah sangat booming dan laris di pasaran. Jika perpustakaan menyediakan layanan secara cuma-cuma, taman bacaan memiliki tarif sewa untuk setiap buku yang dipinjam. Walaupun penikmat taman bacaan perlu merogoh kocek, namun antusiasme masyarakat khususnya anak muda waktu itu sangat tinggi pada kehadiran taman bacaan. Saking larisnya, kadang untuk menikmati buku-buku, majalah, atau komik terbitan baru penyewa harus masuk daftar waiting list. Setiap hari taman bacaan dijejali dengan penyewa yang berbondong-bondong untuk menikmati koleksi bacaan. Hingga di suatu masa kehadiran taman bacaan mulai punah satu persatu.

Lalu, bagaimana dengan perpustakaan? Sepertinya trend euforia menyambut kedatangan mobil perpustakaan keliling tidak setinggi dulu. Pengunjung perpustakaan saat ini beralih menjadi pengakses jaringan internet. Yap, banyak dari perpustakaan yang saat ini menyediakan fasilitas work space lengkap dengan jaringan internet yang dapat diakses secara cuma-cuma oleh pemustaka. Kebiasaan membaca buku dan media cetak mengalami penurunan dibanding beberapa tahun silam. Hal ini salah satunya dapat dilihat dari menurunnya oplah media cetak, dan juga berakhir terbitnya beberapa media cetak yang dulu laris manis di pasaran. Kemajuan teknoogi yang menghadirkan gawai serta jaringan internet – yang kecepatannya semakin bertambah dari waktu ke waktu – sepertinya membuat akses ke media cetak menjadi menurun. Hal ini dikarenakan media digital yang hadir dirasa dapat dengan lebih mudah menggantikan kehadiran medai cetak. Dengan menyentuh layar gawai atau meng-klik tombol di papan ketik, ribuan bahkan jutaan informasi dapat kita akses. Kapan pun, di mana pun. Mudah, cepat, praktis, murah. Termasuk untuk berburu referensi pustaka bagi keperluan tertentu. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuka gawai, mengakses jaringan internet, lalu menyelami dunia digital untuk mencari referensi yang dibutuhkan.

Tak pelak lagi, kebutuhan tersebut memacu perpustakaan-perpustakaan untuk bebenah diri mengikuti perkembangan zaman. Sebutlah dengan menyediakan akses ke jaringan internet secara cuma-cuma, menyediakan katalog buku digital, dan lain-lain. Kesemuanya dilakukan agar jangkauan pemustaka pada sumber-sumber referensi pustaka dapat terus berlangsung dan terjaga. Demikiankah?

Dalam Five Laws of Library, Dr. S.R. Ranganathan meyatakan bahwa “The library is a growing organism.” Perpustakaan akan terus bertumbuh dan berubah seturut perkembangan zaman. Nah, dalam hal ini, kita perlu menyadari kembali apa sebenarnya perpustaakaan. Seperti diketahui secara luas, perpustakaan dikenal sebagai suatu tempat yang menyimpan koleksi buku dan media cetak. Ruang gerak perpustakaan meliputi peminjaman koleksi, kegiatan literasi, dan lain-lain. Koleksi yang tersimpan rapi di perpustakaan merupakan sekumpulan ide, informasi, gagasan oleh para penulisnya yang kemudian dituangkan dalam buku atau media lainnyaa. Proses untuk melahirkan karya ini melewati serangkaian alur berpikir, berkreasi, mengujicobakan ide, dan merefleksikan serta mengecek kembali sebelum akhirnya karya dapat terbit dan dinikmati oleh khalayak luas. Ini artinya buku dan media cetak lahir dari segenap ide serta gagasan yang kemudian diformulasikan agar dapat terdiseminasi ke segala penjuru. Sehingga perpustakaan sesungguhnya mengandung sekumpulan besar ide dari proses kreatif yang terjadi. Nafas mengenai ide dan proses kreatif inilah yang kemudian diambil dan menjadi landasan bagi Perpustakaan Sekolah Eksperimental Mangunan. Bahwa untuk terus dapat beradaptasi dengan kondisi zaman serta kemajuan teknologinya, perpustakaan perlu menjadi ruang kreatif yang bergerak dan menghadirkan karya-karya seputar literasi pustaka. Mengacu pada teori yang digagas oleh Ranganathan tadi, perpustakaan memang bukan sebuah lembaga pasif yang tidak perlu mengalami perubahan, namun justru aktif menyesuaikan diri.

Pertanyaan selanjutnya, seperti apa peran perpustakaan secara nyata jika mengacu pada teori Ranganathan tersebut? Selain teori itu, gerak Perpustakaan Sekolah Eksperimental Mangunan tentu sesuai dengan konsep EKI (Eksploratif, Kreatif, Integral). Menjadi perpustakaan yang EKI meliputi serangkaian proses yang bermuara pada karya-karya dan gerak untuk menyokong terwujudnya iklim literasi di sekolah. Keterkaitan antara hal tersebut serta konsep pola asuh – di mana indikator mengenai pola asuh adalah mengenai kegiatan-kegiatan yang menjadi pembiasaan – yang menjadi titik berat di Sekolah Eksperimental Mangunan, perlu diterjemahkan menjadi gerak bagi perpustakaan. Kata ‘pola’ dalam pola asuh, mengacu pada sesuatu yang terencana dengan sedemikian rupa. Tak heran jika kemudian perpustakaan juga memiliki rancangan kegiatan yang disusun di awal (dalam hal ini dapat diartikan dengan awal tahun ajaran baru) untuk memenuhi goal yang hendak dicapai.

Setelah melalui observasi awal di perpustakaan selama beberapa waktu serta mengaitkannya dengan konsep-konsep di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan mengenai sejauh mana peran perpustakaan dalam iklim literasi pustaka sekolah. Bahwa perpustakaan bukan lagi sebagai lembaga yang pasif hanya dengan kegiatan sirkulasi buku, namun bergeser menjadi ruang kreatif diterjemahkan menjadi serangkaian aksi karya. Salah satu penanda hadirnya kreativitas ini adalah terbitnya buletin bulanan berjejuluk Si Mangun yang hadir setiap tanggal 5. Kemudian untuk menandai peran perpustakaan dalam pola asuh adalah dengan menghadirkan pustakawan yang bernarasi. Narasi menjadi tugas pokok pustakawan bagi sekolah yang mengusung EKI dalam setiap nafasnya. Narasi ini akan menjadi pembiasaan yang membantu mendukung anak untuk mencapai profil dan mengembangkan karakter. Juga menegaskan orientasi diri yang membuat setiap pribadi memiliki life purpose, di mana dalam prosesnya kemampuan self reflection akan hadir. Pustakawan perlu memiliki keluasan dan keluwesan pengetahuan megenai refrensi pustaka yang dibutuhkan di sekolah. Sehingga dapat menjadi partner diskusi baik anak maupun guru dalam eksplorasi kepustakaan. Di sinilah narasi itu hadir, ketika pustakawan memberikan rekomendasinya sehingga keluasan referensi setiap pribadi dapat tercapai. Namun, narasi tidak berhenti hanya sampai adanya rekomendasi atau apresiasi pada para pemustaka. Proses selanjutnya adalah aksi kreatif, mengingat EKI sebagai landasan, sehingga muara dari kegiatan membaca adalah menulis. Maka, munculnya karya-karya kreatif berupa tulisan atau yang lain dapat menjadi artefak atas proses membaca sebelumnya. Dalam menulis, seseorang juga akan mengalami refleksi, sehingga di sinilah EKI menjadi satu proses berkesinambungan yang tidak putus.

Kemampuan bernarasi secara lisan maupun tertulis perlu dimiliki bagi seorang pustakawan. Hal ini dikarenakan ia berproses dengan begitu banyak anak dari berbagai kelas maupun tahapan usia. Narasi penting untuk hadir sebagai pengejawantahan pola asuh serta peran perpustakaan yang aktif kreatif. Selama ini pustakawan kerap disandingkan dengan sosok pasif yang hanya melakukan sirkulasi dan peminjaman buku, namun dengan adanya konsep library is a growing organism maka peran seperti ini tidak lagi relevan. Organism sendiri dapat dimaknai sebagai sesuatu yang memiliki keaktifan untuk hidup dan bergerak, maka begitu pula seorang pustakawan menghidupi semangat EKI untuk menjadi iklim yang menyuburkan tumbuh dan mekarnya insan-insan terbaik.

Penulis: Utami Jatiningtyas

Koordinator Tim Pustakawan Sekolah Eksperimnetal Mangunan

Staf Laboratorium Pengembang Pendidikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar

Exit mobile version