Site icon Dinamika Edukasi Dasar

REAKSI FILM NGGIWAR

Reaksi Menginspirasi Film Nggiwar: Kreativitas Tanpa Batas

Yayasan Dinamika Edukasi Dasar telah merilis film Nggiwar pada tanggal 11 Maret 2022.

Film ini menjadi:

“Penanda keyakinan masih hidupnya asa insani dalam ruang pendidikan. Budaya pendidikan di negeri yang elok ini lama terkunci dalam peti berjudul sekolah. Sekolah sebagai ruang terbangku, nilai benar salah setelah mengerjakan soal, agungnya seorang guru di depan kelas.”

(Catatan di Balik Layar Nggiwar: Kreativitas Tanpa Batas, hal. 2)

Film yang menggambarkan dunia pendidikan saat ini, memberikan buah refleksi untuk semua orang (guru) untuk memberikan proses belajar dan mengajar yang tidak terbatas pada nilai, mental juara, ranking, mengerjakan soal, dan memperoleh nilai yang bagus.

Anak memiliki kebebasan untuk bereksplorasi, berkreasi, dan menjadi pribadi yang utuh dalam mencapai pendidikan yang memerdekakan atau memekarkan diri.

Keterampilan seorang guru untuk menciptakan iklim pendidikan di sekolah harus memiliki “keterampilan berpikir kreatif/creative thinking, berpikir kritis dan pemecahan masalah/critical thinking and problem solving, berkomunikasi/communication, dan berkolaborasi/collaboration.”

Hendra Sigalingging, SS, M. Hum dalam Catatan di Balik Layar Nggiwar: Kreativitas Tanpa Batas mengungkapkan bahwa film yang telah diproduksi oleh Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, berusaha untuk menanggapi isu besar pendidikan Nasional yang sedang diupayakan oleh Kemendikbud tentang Merdeka Belajar.

Merdeka Belajar ditujukan pada siswa & mahasiswa, guru & dosen, orang tua, sekolah & kampus, budaya & bahasa, pemerintah daerah, serta masyarakat & mitra.

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/mendikbud-tetapkan-empat-pokok-kebijakan-pendidikan-merdeka-belajar

Masing-masing jenjang tentu memiliki kebijakan-kebijakan yang diupayakan oleh Menteri dalam mewujudkan Merdeka Belajar.

            Film Nggiwar yang disutradarai oleh Romo Basilius Edy Wiyanto, Pr dengan tagline Kreativitas Tanpa Batas.

Tagline tersebut menegaskan bahwa Nggiwar merupakan suatu terobosan melompat ke samping untuk menawarkan alternatif solusi dan menemukan tawaran-tawaran yang baru untuk berkreasi.

Nggiwar sebagai tawaran, tentu membutuhkan sambutan dengan wujud kreasi dari teman-teman guru maupun semua teman-teman yang tertarik memekarkan diri di dunia pendidikan.

Kreasi yang muncul, tentu memerlukan hal-hal baru sebagai proses lateral thinking/ berpikir nggiwar.

Guru diajak untuk menjadi aktor pembelajar seumur hidup dan memperkaya idenya untuk mendukung terciptanya generasi bangsa yang bisa menjawab tantangan zaman.

Ketika para guru atau aktor-aktor pendidikan ini terus mengembangkan potensinya untuk melompat melalui kreasi baru dan segar, maka di situlah proses nggiwar terus-menerus diwujudkan (Galih).

Demikian juga,

“anak-anak bangsa perlu terus nggiwar, mekar, dan merdeka, untuk bereksplorasi, berkreasi, dan bertumbuh sebagai anak-anak yang bersaudara dalam perbedaan, bersetia kawan, bahagia, kaya ide, banyak akal, selalu menemukan alternatif, gotong royong, dan semakin bermartabat.”

(Catatan di Balik Layar Nggiwar: Kreativitas Tanpa Batas, hal. 7).

            Kemampuan nggiwar didasari oleh “pengetahuan, disiplin, dan menguasai cara berfikir melalui eksperimen, eksplorasi, mempertanyakan asumsi, meggunakan imajinasi kreatif dan mensintesiskan informasi .”

Gambaran film yang mengingatkan pada semua orang (guru) bahwa pendidikan sekolah tidak hanya berfokus dengan teknis pembelajaran tetapi pengembangan nila-nilai pendidikan manusia muda seutuhnya (lih. Catatan di Balik Layar Nggiwar: Kreativitas Tanpa Batas, hal. 8).

Pengembangan pendidikan bagi anak-anak juga tidak hanya terfokuskan pada ruang lingkup formal (sekolah), tetapi juga penting untuk melakukan pembelajaran kolaboratif di ruang lingkup informal (keluarga) atau juga bisa non formal (masyarakat).

Ruang lingkup akan menjadi tempat pendidikan anak-anak dalam proses belajar sehingga potensi-potensi yang ada semakin bertumbuh dan berkembang (lih. Catatan di Balik Layar Nggiwar: Kreativitas Tanpa Batas, hal. 10).

            Semangat Nggiwar yang ditawarkan oleh Romo Mangunwijaya kepada seluruh orang (guru) adalah menjadi satu komunitas pemelajar, berjiwa EKI (Eksploratif, Kreatif, dan Integral) atau pribadi yang memekarkan diri.

Pengalaman bersama, perjumpaan, saling mendengarkan, sinau bareng dan terwujudnya komunikasi yang dialogis menjadi landasan pada pemekaran diri seorang anak.

Anak yang memekarkan diri berarti memiliki jiwa yang EKI (Eksploratif, Kreatif, dan Integral).

Semangat dan terus-menerus untuk “Nggiwar Sesarengan.”

Sumber:

Catatan di Balik Layar Nggiwar Kreativitas Tanpa Batas

Galih, Simon. 2022. Aku Sudah Nggiwar: Tulisan untuk Nggiwar. Yogyakarta.

Jurnal Tarbiyah Al-Awlad, Volume VIII Edisi 02 2018, hlm 112-122/ KETERAMPILAN 4C ABAD 21 DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN DASAR/ https://core.ac.uk/download/pdf/335289337.pdf

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. Mendikbud Tetapkan Empat Pokok Kebijakan Pendidikan “Merdeka Belajar”. Jakarta.

Editor: Bagas Nur Hariyadi

Exit mobile version