Dengan kesadaran bahwa sekolah adalah masyarakat, maka perlu hadir perilaku atau tindakan nyata yang dihidupi dan menjadi iklim terwujudnya “Sekolah adalah Masyarakat” yang mengaktifkan, mengkreasi dan mengelola proses belajar formal, informal dan non formal secara holistik.
Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama, maka komunitas pemelajar memiliki iklim yang memungkinkan anggotanya terus belajar dan saling belajar.
Mengingat Kembali catatan Rm Mangunwijaya dalam sekolah merdeka, bahwa “semua guru adalah murid dan semua murid adalah guru” memberi relevansi terhadap konsep komunitas bahwa setiap insan merupakan subjek pelaku, pelaku yang bagaimana? Pelaku yang aktif atau pelaku yang mau belajar. Beberapa penanda hadirnya komunitas dalam sekolah adalah:
- Sekolah sebagai komunitas menjadi ajang perjumpaan yang saling memberikan kesaksian hidup.
- Nilai/kualitas value menjadi utama dan tertransfer melalui perjumpaan.
- Perjumpaan berdampak terjadinya formasi hati bagi pribadi yang belajar.
- Komunikasi dan perhatian personal menjadi pilar yang dihidupi.
Dengan terwujudnya komunitas pemelajar yang didasari dengan nilai masyarakat adalah sekolah dan setiap pribadi adalah guru maka hadirlah iklim pendidikan yang EKI (Eksploratif, Kreatif dan Integral). Sekolah sebagai komunitas berarti adanya ruang untuk bertumbuh dan berubah. Anggota komunitas terdiri dari berbagai usia, peran, latarbelakang, dan mimpi dan disatukan oleh goals, shared values, dan an agreed on way of being and doing; shared focus, shared responsibility.
