Dinamika Edukasi Dasar

Srawung Memekarkan Diri

“Di mana hati diletakkan, di situ proses belajar dan maju dimulai”

(YB Mangunwijaya)

Srawung merupakan proses pembelajaran dalam kebersamaan (convivium/hidup bersama), baik dalam lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, komunitas bahkan dalam lingkup media sosial.

Dalam konteks pendidikan, srawung bertujuan untuk melibatkan mitra didik dalam proses pencarian dan penyelidikan selama pembelajaran bersama.

Keterlibatan melibatkan 3 hal penting yaitu nalar, verbal, dan tindakan.

Secara nalar, keterlibatan dalam srawung dipahami sebagai proses menemukan ide yang cocok dalam melakukan atau menyelesaikan sesuatu. Nalar juga bisa dijelaskan sebagai proses mengetahui baik dan buruk suatu tindakan.

Secara verbal, srawung dipahami bahwa tanggapan yang dapat diungkapkan melalui proses berbicara sebagai tanggapan terhadap suatu topik atau gagasan yang telah direncanakan.

Sedangkan secara tindakan, srawung dimaknai sebagai aktivitas nyata yang dilakukan dalam merespon gagasan maupun ide yang telah direncanakan maupun disampaikan dalam proses diskusi atau proses belajar.

Di dalam pembelajaran, srawung dijadikan sebagai sumber dan proses belajar atau ‘sinau’ untuk memekarkan diri baik bagi pribadi seorang anak maupun orang dewasa.

Memekarkan pribadi seorang anak dalam konteks ‘srawung Romo Mangun’ mengarah pada 3 hal tahapan penting yaitu jiwa rasa, karsa, dan cipta.

Sebelum menuju 3 tahap (rasa, karsa, dan cipta), seseorang perlu melewati tahap ‘krida’.

Krida diartikan sebagai suatu proses pembelajaran  yang membutuhkan suatu keterampilan.

Keterampilan dipahami sebagai proses atau aktivitas yang mengajak seseorang untuk berpikir, berdiskusi, berasumsi, menjelaskan, membuat suatu pernyataan yang baru atau menyimpulkan suatu gagasan maupun ide.

Demikian pula dengan gagasan Romo Mangun yang menjelaskan tentang 3 tahap proses belajar seorang anak maupun orang dewasa.

Menurutnya, belajar dimulai dari menaruh hati (rasa), kemudian memiliki kehendak/kemauan (karsa), dan barulah sampai pada tahap menciptakan/kreativitas (cipta).

Rasa, karsa, dan cipta merupakan sebuah proses eksplorasi anak yang bermuara pada kreativitas tanpa batas.

Hal penting yang perlu diolah oleh anak adalah rasa. Saat perhatian diberikan pada anak, maka kehendak untuk belajar akan muncul dengan sendirinya.

Anak akan aktif untuk berpartisipasi, bergerak, dan berkreasi.

Di dalam konteks pendidikan, seorang guru perlu memahami bahwa anak belajar tidak seperti orang dewasa. Seorang anak akan belajar jika ia telah menaruh perhatian pada sesuatu yang sedang dipelajari.

Dalam buku Sekolah Merdeka, Romo Mangun menegaskan bahwa “selama anak belum menaruh hati, suatu pembelajaran masih sulit masuk ke dalam otaknya; dari hati ke otak; dari afeksi ke kognisi; dari rasa ke tahu.”

Taraf proses pembelajaran pada anak menekankan segi afektif, perasaan, simpati, empati, suka tak suka, ketertarikan, dan keasyikan yang pertama dan utama.

Sedangkan proses belajar yang terjadi pada orang dewasa urutannya adalah perlu memiliki gagasan atau ide yang kreatif untuk merencanakan sesuatu yang sebelumnya belum ada (cipta). Kemudian mengarah pada dorongan perasaan hati (krenteging ati) dan bertunasnya niat atau kehendak (kethukulan rasa).

Bersamaan dengan dorongan hati atau bertunasnya kehendak, lalu muncul suatu pelaksanaan kehendak (karsa) orang dewasa akan kembali lagi pada tahap cipta baru yang akan lebih bertumbuh dan berkembang.

Setelah memahami pengertian tentang krida, rasa, cipta, dan karsa, penting juga untuk memahami tentang istilah ‘bawa’ (dibaca: ‘bowo’). Tahap ‘bawa’ dipahami sebagai satu kesatuan antara (krida, rasa, karsa, dan cipta) yang dikembangkan menjadi suatu tindakan atau perilaku yang telah dirasakan, keinginan atau kehendak yang akan diwujudkan melalui keterlibatan.

Ketika aspek (cipta, karsa, rasa dan bawa) sudah dimiliki anak, maka mereka akan lebih cepat dalam proses bertumbuh dan berkembang.

Dengan demikian, srawung merupakan proses belajar yang memekarkan pribadi anak dengan menyatukan aspek keterampilan (krida), rasa, karsa (keinginan), cipta (menciptakan), dan perilaku yang mengarah pada keterlibatan diri (bawa).

Penulis:

Bagas Nur Hariyadi

Exit mobile version