Pedagogi Mangunwijaya

Pedagogi Mangunwijaya merupakan filosofi yang dipegang dalam proses kita bersama. Pedagogi sendiri dipahami sebagai proses pendampingan yang berpusat pada anak. Dalam catatannya, Mangunwijaya menuliskan bahwa tugas guru adalah menjadi bidan yang aktif menolong, bukan sebagai kebenaran, karena kebenaran adalah milik si anak.

(YB. Mangunwijaya (2020): Sekolah Merdeka, hal. 40).

Oleh sebab itu, maka hal yang penting dalam menjadi aktor, guru perlu memberi per-HATI-an, supaya muncul pula HATI pada sang anak. Penanda dari munculnya perhatian adalah heran terhadap hal yang ditemui, perasaan heran ini dapat muncul tatkala kepekaan indra dari setiap insan dapat menangkap sinyal/penanda disekitarnya. Setelah itu barulah, dari cerapan indra yang terjadi munculah kekaguman, kekaguman dapat dimaknai atau dilihat dalam proses berefleksi, menghayati perjumpaan indra yang terjadi. Barulah, muncul Pertanyaan, yang ditandai dengan proses pengolahan nalar sampai ke aksi dalam menyikapi perasaan heran dan kagum tersebut.

Untuk memunculkan perhatian tersebut, maka perlu ada rancangan iklim/ekosistem yang memantik dan menghidupinya. Rancangan iklim/ekosistem tersebut muncul dalam pola pendampingan yang juga eksploratif, kreatif dan integral demi mekarnya pribadi yang eksploratif, kreatif dan integral pula. Mangunwijaya mengambarkan, memekarkan pribadi yang eksploratif, kreatif dan integral ini seperti pohon yang tumbuh. Tumbuhnya pohon akan sangat dipengaruhi oleh, cuaca, tempat tumbuh hinga cara merawatnya. Maka penting disadari bagaimana iklim/ekosistem dibentuk dengan melihat, anak sebagai pribadi yang belajar (pemelajar), alam sebagai tempat/relasi proses belajar terjadi, dan alat sarana dan prasarana yang dibutuhkan secara organis atau selaras dengan alam dan pribadi anak.

(bersambung ke halaman 2)

1 komentar untuk “Pedagogi Mangunwijaya”

  1. LILY EKAWATI

    Konsep Pendagogi Mangunwijaya sudah sangat bagus bahwa Peserta didik atau anak diajak untuk menemukan hal hal yang menjadi daya tarik di lingkungan sekitar sehingga akan tumbuh semangat keingintahuan anak lebih dari apa yang dilihat langsung sehingga sikap heran dan kagum anak akan dilanjutkan dengan sikap keingintahuan suatu pengetahuan baru dalam kehidupan yang nyata ini atau lingkungan sekitar yang di jumpai anak atau peserta didik.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top