
Penulis: Malachi Raka
Disusun oleh: Ni Nyoman Oktaria Asmarani, Fakultas Filsafat, Universitas Gajah Mada
Pemikiran Romo Mangun tentang pendidikan dipengaruhi budaya Jawa dan ajaran agama Katolik. Romo Mangun menemukan konsep ajrih-asih atau cinta kasih, dan rasa takut. Sebagai rohaniawan Katolik, Romo Mangun menganggap asas-asas yang telah didekritkan oleh Konsili Vatikan II dalam dokumen Gravissimum Educationis (Tentang Pendidikan Kristen) harus juga menjadi acuan. Pemikiran Romo Mangun tentang pendidikan juga banyak dipengaruhi oleh Paulo Freire dan Jean Piaget (Febrianus tt: 4).
Penulis sendiri beragama Kristen Protestan mengakui adanya kesamaan konsep pendidkan Romo Mangun sesuai dengan Alkitab. Penulis akan memaparkan beberapa kitab dan ayat menjadi acuan konsep pendidikan Romo Mangun yang berlandaskan konsep ajrih-asih artinya cinta kasih dan rasa takut, sebagai berikut.
Konsep ajrih-asih
Konsep ajrih-asih merupakan kedua kata dalam bahasa Jawa, yang berarti ajrih adalah takut dan asih berarti cinta kasih. Jika digabungkan kedua kata berarti “takut tetapi cinta”. Hal ini dimaksudkan dengan peserta didik diajak untuk memiliki sikap yang takut, tetapi hormat Tuhan, bahkan mencintaiNya setulus hati. Apakah relawan dengan gagasan dan konsep pendidikan Romo Mangun? Berikut ini beberapa ayat Alkitab dalam ajaran Kristen Protestan, yaitu: Mazmur 115: 11, Yesaya 41: 10, dan Filipi 2: 12.
Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.” Filipi 2: 12
Jika diperhatikan dengan Filipi 2: 12 dalam perjanjian baru sangat berkaitan dengan konsep ajrih-asih bahwa rasa takut tetap cinta Tuhan memiliki keterkaitan dengan dua rasa dan kata, cinta dan takut bisa dikerjakan secara bersamaan. Bahkan Tuhan tidak hadir, seharusnya tidak perlu takut karena Dia selalu ada dan bersama menurut Yesaya 41: 10. Tuhan bekerja melalui Roh-Nya yang menguasai seluruh tubuh dan menuntun di jalan yang benar, kerjakan hal yang benar, dan menumbuhkan rasa takut pada Tuhan sehingga hal ini dapat menunjukkan rasa cinta Tuhan. Cinta adalah percaya akan keselamatan.
Kasih adalah sesuatu yang mengasihi bahkan tidak bisa melihatNya dalam 1 Yohannes 4: 12. Kita memang betul tidak bisa melihat Tuhan secara jelas tetapi kita dapat merasakan kehadiran Tuhan (the presence of God) dengan mengasihi pada sesama manusia. Anjuran kita mengasihiNya karena Allah lebih dulu mencintai kita dalam 1 Yohannes 4: 19. Perintah kasih sesama manusia sudah dijelaskan dalam Alkitab sehingga menjadi hukum tertinggi ajaran Kristen. Kasih adalah pengampunan. Pengampunan terhadap musuh, orang yang tidak suka, dan bahkan penjahat yang kejam. Matius 5: 44 adalah sumber utama ajaran kasih dalam Kristus saat Tuhan Yesus berbicara tentang ampunan terhadap musuh yang memperskusi di gunung.

Dalam sejarah Kristen, umat Kristen baik Protestan maupun Katolik telah mengalami persekusi dan kekerasan agama setiap tahun bukan hanya zaman sekarang. Zaman Yesus, Dia telah menderita karena dipersekusi, ditolak, dan disiksa tetapi Dia tidak pernah berperang dan Dia mengasihi dan berdoa untuk memohon ampunan terhadap musuhnya. Benar, Yesus pernah berkata, “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” (Matius 26: 52), tetapi Dia sama sekali tidak pernah berperang meskipun banyak mengharapkanNya untuk balas dendam. Hal ini diperkuat dengan murid Yesus bernama Paulus beserta pengikutnya dihukum penjara tetapi Paulus terus mengingatkan para pengikut untuk terus mengampuni para sipirnya meskipun ada pengikut meminta untuk melawan. Dan, Paulus menyerahkan nyawanya dengan eksekusi hukuman mati.
Oleh karena ajaran Kristus, hendaklah untuk memiliki sikap takut dan cinta Tuhan serta mengasihi pada sesama manusia. Yesus telah menjadi teladan dan “role model” panutan bagi umat Kristus yang percaya akan satu-satunya keselamatanNya dan bahkan orang yang tidak mempercayaiNya.
“Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasihNya sempurna di dalam kita.” 1 Yohannes 4: 12
Mengasihi dan rasa takut bukan hanya dilihat manusia tetapi menjadi kepribadian yang kekal dan berniat penuh kepada Tuhan Yesus. Percaya Dia ada di sini dan dimana-mana. Hal ini bagian dari pondasi pendidikan yang berkarakter cinta kasih dan rasa takut. Anak-anak sebagai manusia yang masih ‘hijau’ sehingga diperlukan untuk memiliki sikap cinta kasih dan takut pada Tuhan sehingga kelak nanti mereka sudah lulus dan sudah dewasa dapat menunjukkan sikap Kristus kepada banyak orang yang ditemuinya. Niat artinya menyerahkan. Bekerja untuk Tuhan dan belajar untuk Tuhan.
Konsep ajrih asih diinisiasikan oleh Romo Mangun sangat sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang merdeka dan toleran serta berkebhinekaan dan hal ini sangat dibutuhkan agar para pemuda Indonesia memiliki karakter cinta kasih dan takut pada Tuhan.

Dalam Buku “Sekolah Merdeka” (catatan paruh perjalanan eksperimentasi Rm Mangun yang dilakukan di SD Eksperimental Mangunan (1994-1999) menegaskan bahwa ” ..semua itu harus digenangi asih yang banyak. Hanya asih melulu akan menghasilkan pemanjaan yang mengacau. Hanya ajrih belaka akan merusak anak. Baru dalam perpaduan dua unsur itu dalam ramuannya yang pas pendidikan sejati akan terlaksana. namun, porsi asih jelaslah harus jauh lebih banyak daripada ajrih” (Hal. 120).
Upaya pendidikan yang mengedepankan ajrih-asih merupakan upaya untuk menumbuhkan religiositas. Religiositas merupakan sikap dasar manusia sebagai ciptaan kepada Allah sebagai Sang Pencipta. Sikap dasar tersebut terekspresikan dalam rasa gentar dan kagum. Ajrih-asih mewujudkan getar hati yang gentar dan kagum untuk lebih bisa memekarkan diri.
Dalam Buku “Sekolah Merdeka” (Hal. 120), Rm Mangun menjelaskan sikap ajrih-asih.
Upaya pendidikan yang mengedepankan ajrih-asih merupakan upaya untuk menumbuhkan religiositas. Religiositas merupakan sikap dasar manusia sebagai ciptaan kepada Allah sebagai Sang Pencipta. Sikap dasar tersebut terekspresikan dalam rasa gentar dan kagum. Ajrih-asih mewujudkan getar hati yang gentar dan kagum untuk lebih bisa memekarkan diri.