Konsep Belajar Merdeka ala Romo Mangun

Penulis: Malachi Raka

Terinspirasi dari Sekolah Eksperimental Mangunan yang semakin menarik untuk dipelajari, diriset, dan ingin mengalaminya, penulis selalu belajar tentang konsep belajar merdeka ala Romo Mangun. Sekolah Eksperimental Mangunan menerapkan kurikulum Pohon Kurikulum Mangunwijaya. Sekolah ini pernah vakum selama 2 tahun 1999-2001 setelah wafatnya Romo Mangun, tetapi berkat bantuan dari Keuskupan Agung Semarang, sekolah ini dibuka kembali pada tahun 2002 dan terus berkembang hingga sekarang. Pada awal berdirinya sekolah ini hanya dibuka untuk SD tetapi sekarang sudah dibuka untuk TK dan SMP. 

Sekolah ini terletak di desa Cupuwatu, Kalasan, Sleman yang sekitar 15 menit dari pusat kota Yogyakarta dan juga 15 menit dari perbatasan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan provinsi Jawa Tengah. Sejak awal, kurikulum yang diajarkan menekankan kemerdekaan anak untuk belajar dan mengembangkan potensi anak.

Konsep belajar merdeka ala Romo Mangun didasarkan oleh latar belakang beliau terlahir dari keluarga yang mempunyai riwayat pendidikan, pernah menjadi tentara, dan menjadi romo atau pastor dimana kalian sudah familiar dengan konsep selibat dalam ajaran Katolik sehingga beliau memiliki waktu luang untuk mengabdikan diri di bidang pendidikan dan arsitektur sepanjang hidupnya. Dia benar-benar peduli dengan rakyat kecil karena saat dia menjadi tentara dan dia selalu diselamatkan oleh rakyat kecil dari gempungan musuh. Pengalaman hidup dan keprihatinan kesulitan akses pendidikan bagi rakyat kecil terutama pada era Orde Baru kala itu dipimpin oleh Soeharto pada tahun 1967-1998 membuat Romo Mangun akan peduli terhadap reformasi pendidikan dengan bertujuan agar rakyat kecil dapat bersekolah dan dapat bertumbuh dengan baik dan sesuai dengan kebutuhannya. 

Sebagai agama Katolik, Romo Mangun menerapkan empat tugas gembala Gereja Katolik universal yang diamanatkan oleh Konsili Vatikan II, yaitu: perdamaian dunia, keadilan sosial, nilai-nilai moral, dan peri kemanusiaan. Dalam pandangan Uskup Soegijapranata sebagai pimpinan dan “guru” Romo Mangun tentang hubungan Gereja Katolik di dunia yang diteguhkan oleh Konsili Vatikan II, Romo Mangun berpendapat bahwa tugas orang Katolik di Indonesia bukan membaptis orang, melainkan membawa negara dan bangsa Indonesia semakin baik dan begitu juga agama lain. Oleh karena itu, Romo Mangun mendapatkan izin untuk mengabdikan diri di luar lingkungan Gereja Katolik dan terus dekat dengan rakyat kecil hingga wafat. 

Konsep child centered dengan empat pendekatan, yakni joyful learning (pembelajaran yang menyenangkan), active learning (pembelajaran yang aktif), child centered learning (pembelajaran yang berpusat pada anak), dan family learning (pembelajaran yang kekeluargaan) merupakan salah satu gagasan pendidikan Romo Mangun yang memprioritaskan pada tumbuh kembang anak dan menempatkan posisi guru sebagai subjek. Beliau tahu bahwa anak berhak untuk mengekspresikan kebebasan, kreativitas, pendapat, keahlian, kemampuan, dan menumbuhkan kepribadian dan karakter, Ada tujuh modal dasar anak, yaitu karakter dan religiusitas, penguasaan bahasa, orientasi diri, matematika dan logika berpikir, pengenalan piranti, kerjasama, kinestetik, dan kesehatan jasmani. 

Menurut Ibu Tika selaku Kepala Sekolah SD Eksperimental Mangunan, Sekolah Eksperimental Mangunan terdapat empat pelajaran khas, yaitu Kotak Pertanyaan, Komunikasi Iman, Membaca Buku Bagus, dan Musik Pendidikan yang diharapkan agar anak dapat belajar tentang sesuatu yang baru dengan cara menyenangkan dan bebas. Sekolah Eksperimental Mangunan masih menerapkan pelajaran umum seperti sekolah lain, seperti bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, dan lain-lain tetapi ditunjang oleh empat pelajaran khas. Namun, ada satu hal yang menarik, Sekolah Eksperimental Mangunan tidak ada pelajaran agama melainkan pelajaran komunikasi iman dimana anak dapat berdiskusi, saling berbagi pikiran dan pendapat serta dapat mendengarkan dan menghargai tanpa dihantui rasa ketakutan. Meskipun Sekolah Eksperimental Mangunan di bawah organisasi Katolik tetapi sekolah ini dapat dibilang pluralistik karena memiliki banyak siswa terdiri dari latar belakang yang beragam, dari agama, ekonomi, suku bangsa, dan lain-lain, sehingga anak akan mengenal keragaman dan kekayaan budaya Indonesia yang beragam, berkebhinekaan, dan plural, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. 

Menurut Ibu Tika, Sekolah Eksperimental Mangunan menerapkan pembelajaran berbasis proyek dimaksudkan dengan para siswa dapat mengenali potensi diri kemudian dikembangkan potensinya sesuai kebutuhannya serta dapat mengakomodasi kemampuan anak yang berbeda-beda. Jadi anak yang punya kemampuan lebih dalam hal berbicara mungkin akan memilih metode presentasi (pembelajaran) untuk menyampaikan hasil karyanya sedangkan anak yang kemampuannya di bidang musik mungkin akan membuat lagu atau mengubah musik untuk karyanya. Mereka belajar dalam kelompok dan bekerja di dalam kelompok sehingga mereka juga dapat saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Menurut Romo Mangun, kerjasama itu tujuannya adalah agar anak semakin mengenali potensi dirinya mengembangkan potensi dirinya dan semakin mampu mengenali perannya dalam kelompok. Jadi, tidak anut grubyug alias ikut-ikutan. Anak-anak dapat mengambangkan potensi sendiri sehingga mereka dapat belajar dengan bahagia dan merdeka bukan hanya ikut-ikutan, seperti ikut teman dan tidak terjebak “salah jurusan”. Mereka tidak lagi dituntut untuk memenuhi ekspektasi orangtua dan sekolah tetapi mereka dapat bebas mengembangkan diri dan mengekspresikan secara bebas, seperti mereka dapat menemukan jati diri atau identitas diri, siapa saya, who am I

Sekolah Eksperimental Mangunan dapat diharapkan menjadi contoh penerapan sekolah merdeka di Indonesia dan sebuah sekolah yang memusatkan pada anak sebagai prioritas dalam pengembangan pendidikan yang merdeka.

Sumber: 

Dedy Pradipto. Belajar Sejati vs Kurikulum Nasional. (Yogyakarta: Kanisius, 2007). h.82

Supratiknya, A., Pendidikan Bagi Anak Miskin, Pemikiran-Pemikiran Romo Mangun (Yogyakarta: Pusat Pastoral Yogyakarta, 2006). Hal. 6 

Y. Sari Jatmiko, Menjadi Manusia, The Daily Wisdom of Mangunwijaya (Yogyakarta: Dinamika Edukasi Dasar, 2004) hal. 23-24, 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top